Siapa Ahli Teknologi Laboratorium Medik (ATLM) Itu?

Ahli Teknologi Laboratorium Medik (ATLM) menurut Permenkes No. 42 tahun 2015 adalah setiap orang yang telah lulus pendidikan Teknologi Laboratorium Medik atau analis kesehatan atauanalis medis dan memiliki kompetensi melakukan analisis terhadapcairan dan jaringan tubuh manusia untuk menghasilkan informasitentang kesehatan perseorangan dan masyarakat sesuai denganketentuan peraturan perundang-undangan. Untuk saat ini kualifikasi pendidikan dari ATLM adalah DIII sebagai Ahli Madya Tehnologi Laboratorium Medik dan DIV sebagai sarjana Terapan Teknologi Laboratorium Medik. Sedangkan untuk S2 TLM masih belum masuk dalam kualifikasi pendidikan di permenkes.

Untuk menjalankan praktek sesuai dengan kompetensinya, seorang ATLM harus memiliki Surat Tanda Regristrasi (STR) dari pemerintah. Dan salah satu syarat pengurusan dari STR tersebut adalah Sertifikat Kompetensi (Serkom) yang diperoleh apabila seorang ATLM sudah lulus dalam Uji Kompetensi Nasional (Ukomnas) yang diselenggarakan oleh pemerintah, Assosiasi Institusi Pendidikan Tehnologi Laboratorium Medik (AIPTLMI) dan Organisasi Profesi (Patelki). Ukomnas ini merupakan salah satu program dari pemerintah untuk menyetarakan kualitas kompetensi yang akan di luluskan oleh semua Institusi pendidikan TLM yang ada di Indonesia. Dan mulai tahun 2021 sudah diberlakukan percobaan exit exam, sehingga apabila mahasiswa TLM belum lulus Ukomnas tidak bisa di lakukan proses Yudisium.

Proses selanjutnya setelah lulus dari pendidikan TLM maka akan tergabung dalam organisasi profesi yaitu Persatuan Ahli Teknologi Laboratorium Medik (Patelki), yang merupakan satu-satunya organisasi yang diakui pemerintah untuk menaungi seluruh ATLM di Indonesia. Patelki bertanggung jawab untuk menjaga dan meningkatkan kompetensi dari seorang ATLM dan juga memfasilitasi semua kebutuhan legalitasnya, selain fungsi-fungsi yang lain. Dibawah naungan Patelki diharapkan semua ATLM mempunyai Visi dan Misi yang sama dalam membantu pemerintah dalam pembangunan kesehatan di Indonesia.

Dimasa pandemi covid 19 ini profesi ATLM berperan sentral dalam penanganan dalam upaya pemutusan rantai penularan. Penegakan diagnosa dari seseorang yang terinfeksi virus Covid 19  melalui hasil pemeriksaan dari laboratorium, dimana seorang ATLM menjalankan tugas profesinya. Mulai dari pengambilan sampel swab nasopharing dan oropharing, pemeriksaan Rapid Antigen, pemeriksaan RT PCR, serta pemeriksaan pendukung lainnya. Upaya pemerintah untuk memperbanyak testing dengan mendirikan rumah sakit, laboratorium yang bisa melalukan pemeriksaan RT PCR yang merupakan gold standart dari diagnosa Covid 19. Sampai tanggal 14 Oktober 2021 ada 856 laboratorium yang melayani pemeriksaan RT PCR dan menginput ke dalam New All Record (NAR).

Dengan kondisi diatas otomatis membutuhkan banyak sekali ATLM yang akan bekerja di Fasyankes tersebut. Ini salah satu hikmah dari pandemi sehingga membuka kesempatan yang luas bagi ATLM untuk bisa mengabdikan diri sesuai dengan kompetensinya. Diawal pandemi untuk di Jawa Timur, masih kekurangan banyak sekali ATLM dibanding permintaan-permintaan dari Fasyankes. Di Jawa Timur yang terdapat 17 prodi Teknologi Laboratorium Medik baik D3 maupun D4 masih kuwalahan untuk memenuhi permintaan dari Fasyankes tersebut. Jelas ini merupakan prospek yang luar biasa dari ATLM yang sekarang banyak dibutuhkan untuk memenuhi semua Fasyankes yang ada di Jawa Timur dan seluruh nusantara.

DPW Patelki Jawa Timur berupaya merangkul semua elemen laboratorium, baik dari institusi Pendidikan, fasilitas pelayanan kesehatan, BBLK, BBTKL untuk saling bersinergi dalam rangka kemajuan dari profesi ini. Dan juga terus melakukan branding ke media sosial agar profesi ATLM bisa dikenal masyarakat luas sehingga berimbas untuk bisa menyekolahkan putra/ putrinya di jurusan Ahli Teknologi Laboratorium Medik.

 

Luki Herli Purniwan, S.ST.

Ketua DPW Patelki Jawa Timur